Mahasiswa Asing Ikuti Language and Cultural Immersion Programme di MIM Krakitan dan MTs MPK Bayat

Mahasiswa Asing Ikuti Language and Cultural Immersion Programme di MIM Krakitan dan MTs MPK Bayat
Bayat, Klaten — Sebanyak sepuluh mahasiswa asing dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengikuti kegiatan Language and Cultural Immersion Programme pada Rabu, 27 Agustus 2025. Acara yang berlangsung di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Krakitan dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) MPK Bayat ini menjadi ajang pembelajaran lintas budaya sekaligus memperkenalkan bahasa dan budaya Indonesia kepada mahasiswa internasional.
Mahasiswa yang terlibat berasal dari berbagai negara, yaitu Pakistan, Somalia, Timor Leste, dan Bangladesh. Mereka telah berada di Kecamatan Bayat selama empat hari untuk mengikuti rangkaian program yang digagas oleh Lembaga Pusat Bahasa UMS bekerja sama dengan Majelis Dikdasmen PCM Bayat.
Tujuan Program
Tujuan utama Language and Cultural Immersion Programme adalah memperkenalkan bahasa Indonesia sekaligus budaya lokal kepada mahasiswa asing. Melalui interaksi langsung dengan siswa dan warga sekitar, diharapkan mereka dapat merasakan kehangatan masyarakat sekaligus memahami kekayaan tradisi Indonesia.
Kepala MIM Muhammadiyah Krakitan, Agus Wibawanta, menyampaikan bahwa program ini sangat bermanfaat, tidak hanya bagi mahasiswa asing, tetapi juga bagi madrasah.
“Kegiatan ini sangat baik untuk MI Muhammadiyah Krakitan. Selain memberi pengalaman internasional kepada siswa, program ini juga bisa menjadi bentuk promosi madrasah agar lebih dikenal secara luas,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala MTs MPK Bayat juga menyambut kegiatan ini dengan penuh antusiasme. Menurutnya, kehadiran mahasiswa asing memberi warna baru dalam proses pembelajaran di sekolah.
“Kami menyambut baik kegiatan ini. Selain sebagai bentuk promosi, program ini juga menambah wawasan siswa-siswi kami terkait dunia luar negeri. Mereka bisa belajar langsung tentang budaya dan pengalaman dari mahasiswa asing,” ungkapnya.
Pengalaman Mahasiswa Asing
Para mahasiswa asing mengaku senang bisa berkunjung ke Krakitan dan Bayat. Mereka merasakan keramahan masyarakat setempat serta interaksi yang akrab dengan para siswa. Salah seorang peserta dari Somalia mengatakan bahwa pengalaman di Bayat akan selalu ia kenang.
“Saya merasa sangat senang mengunjungi Kecamatan Bayat, khususnya di Krakitan. Orang-orang di sini sangat ramah. Bahkan ketika bertemu penduduk, saya sering diajak untuk selfie atau foto bersama,” tuturnya dengan senyum.
Selain itu, mereka juga belajar berbagai aspek budaya lokal, mulai dari tradisi masyarakat, tata krama, hingga suasana sekolah. Bagi sebagian mahasiswa, pengalaman ini menjadi pintu masuk untuk lebih memahami nilai-nilai sosial Indonesia.
Dampak Bagi Sekolah dan Masyarakat
Kehadiran mahasiswa asing di sekolah memberi motivasi baru bagi siswa untuk lebih berani berkomunikasi dan membuka diri terhadap perbedaan budaya. Siswa-siswi MIM Krakitan dan MTs MPK Bayat mendapatkan kesempatan langka untuk berbincang langsung dengan tamu dari berbagai negara.
Menurut beberapa guru, interaksi semacam ini tidak hanya memperluas wawasan siswa, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri. Selain itu, masyarakat sekitar turut merasakan manfaat melalui interaksi sehari-hari, seperti ketika mahasiswa asing menyapa warga atau mengikuti aktivitas lokal.
Kegiatan ini juga menjadi sarana diplomasi budaya yang efektif. Dengan mengenalkan bahasa dan budaya Indonesia sejak dini, diharapkan para mahasiswa asing dapat menjadi duta yang membawa cerita positif tentang keramahan dan kekayaan budaya Indonesia ke negara asal mereka.
Harapan Ke Depan
Majelis Dikdasmen PCM Bayat bersama Pusat Bahasa UMS berencana menjadikan kegiatan Language and Cultural Immersion Programme sebagai agenda rutin. Harapannya, semakin banyak mahasiswa asing yang bisa datang ke Bayat, sehingga kerjasama internasional dalam bidang pendidikan semakin kuat.
Agus Wibawanta menambahkan, kegiatan serupa perlu terus diperluas.
“Kami berharap program ini tidak berhenti di sini saja. Dengan dukungan semua pihak, kita bisa menjadikannya agenda tahunan yang bermanfaat, baik untuk siswa lokal maupun mahasiswa asing,” jelasnya.
Penutup
Language and Cultural Immersion Programme di MIM Krakitan dan MTs MPK Bayat bukan sekadar kegiatan akademik, tetapi juga sarana mempererat persahabatan lintas negara. Kehangatan masyarakat Bayat, semangat siswa, serta antusiasme mahasiswa asing menjadi bukti bahwa bahasa dan budaya dapat menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai bangsa.
Dengan pengalaman ini, para mahasiswa asing tidak hanya membawa pulang pengetahuan tentang bahasa Indonesia, tetapi juga kenangan manis tentang keramahan dan kearifan lokal masyarakat Bayat.



